Rindik Bali Menuju Europalia Indonesia

Sejujurnya saya katakan menjadi seorang juru tabuh gamelan bukanlah hal yang mudah untuk dilakoni di Belgia.

Tidak gampang mencari networking agar mendapatkan tawaran manggung. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memperoleh kepercayaan.

Tidak perlu ambisius bertindak, dilakoni bagai air mengalir, tidak berorientasi dengan bayaran, dijalanin lugu saja, jujur seadanya dan menampilkan yang terbaik. Niscaya ini modal besar untuk mendapatkan tawaran berikutnya.

Sejak berumur 8 tahun saya mengenal suara rindik di Rumah Pegok, Sesetan, Bali di mana saya dilahirkan. Bunyi bambu yang halus dan jernih membuat saya jatuh cinta padanya.
Cara memainkan menggunakan 2 panggul panjang berujung karet ban bekas. Tangan kiri memainkan melodi pokok, sedangkan tangan kanan memainkan variasi.

Untuk dapat menguasai permainan rindik diperlukan waktu berbulan-bulan. Saya berlatih serius dan rajin hingga sampai menangis tersedu-sedu diajarkan oleh kakak sekalius guru saya I Made Arjana.

Dengan pengajaran yang keras tapi berhati lembut sesungguhnya Made Arjana membuat saya menjadi berani disiplin dan mampu menguasai tabuh rindik yang sulit sekalipun.

Barangkali itulah sebabnya, jika kita berlatih sungguh-sungguh, menjaga disiplin waktu, menjalin networking dan menampilkan yang terbaik ternyata pada akhirnya rindik menggapai sebuah titik harapan yang tidak disangka.

Titik harapan itu sederhana saja yaitu sebagai bumbu penyedap promosi Festival Europalia Indonesia di negeri Belgia dimana saya tinggal sejak 1996.

Walaupun sebagai bumbu penyedap, rindik tetap menjadi pusat perhatian publik Eropa bahkan mengundang antusias tinggi.

Kenapa? Karena publik mendengar langsung asal bunyi, melihat keunikannya dan cara khas memainkannya. Banyak pengunjung menghampiri terutama anak-anak turut antre memainkan rindik.

Mereka mencoba berkali-kali dan memperoleh kesan yang sangat positif.
Seperti yang terlihat dalam 2 event promosi Europalia Indonesia yang telah saya lakukan pada 7 Mei 2017 di Fete d’ Iris di Royal Parc Brussel dan baru-baru ini cultuurmarkt pada 27 Agustus 2017 di Grote Markt kota Antwerpen.

Dalam kedua event itu, ribuan orang memadati kegiatan budaya musim panas yang setiap tahun diadakan. Berbagai kegiatan seni disuguhkan antara lain konser musik, tarian, interaktif, animasi, gastronomi, dan promosi informasi program budaya.

Kedua event tersebut dimanfaatkan oleh panitia Festival Europalia Indonesia untuk mempromosikan ajang budaya yang akan digelar pada Oktober 2017.

Festival Europalia Indonesia adalah ajang seni budaya yang sangat prestisius di Belgia. Festival Europalia diadakan setiap 2 tahun sekali dan tahun ini Indonesia menjadi Negara Tamu yang ke-26.Festival ini akan berlangsung selama 5 bulan mulai 10 Oktober 2017 hingga 21 Januari 2018 di seluruh kota di Belgia hingga ke negara tetangga seperti Belanda, Perancis, Jerman dan Inggris.

Ratusan artis, koleksi benda bersejarah, literatur, diskusi budaya, pameran, gastronomi dan pertunjukan seni akan memeriahkan Europalia.

Tingkatkan Apresiasi Budaya

Sebagai bangsa yang berbudaya, memiliki kekayaan tradisi (heritage) berlimpah wajar kita banggakan. Nilai-nilai tradisi sudah menebar aroma harum sehingga para turis dunia berebut menghirup keharumannya.

Terciptanya kreasi baru, baik itu seni patung, instalasi, lukis, drama, teater, musik, literatur membuat citra budaya kita semakin diperhitungkan.Apalagi pertunjukan seni tari kontemporer Indonesia yang sudah mampu unjuk gigi di belahan dunia internasional.
Berkat kekayaan budaya tersebut, akhirnya Indonesia terpilih menjadi Guest Country (Negara Tamu) dalam perayaan Festival Europalia yang merupakan festival terbesar, prestisius, terhebat di jantung Eropa ini.

Di sinilah kita patut berbangga dengan karya seni anak bangsa yang berasal dari seluruh kepulauan nusantara.

Sebagai warga Indonesia yang berbudaya, wajar sekali kita menghormati karya seni anak bangsa tersebut, mengapresiasinya bahkan mendukung kuat kreativitas seni mereka.Bukan malahan meremehkan, merusaknya, vandalisme, apalagi menghancurkan dengan persepsi liar dan sentimen SARA yang mengerikan.

Di sinilah kita perlu pengharum budaya agar kita berhati-hati berpikir dan bertindak. Kita harus terus meningkatkan suntikan apresiasi budaya di setiap sekolah maupun di masyarakat agar masyarakat terbuka hatinya terhadap keragaman kebudayaan Indonesia.

Kita pun pantas mencontoh apresiasi seni budaya di negeri Eropa, di mana rindik sebagai salah satu karya anak bangsa ternyata diminati, diapresiasi, dipelajari dan disayangi oleh bangsa lain. ( MADE AGUS WARDANA, tinggal di Belgia)

 

Article Source: http://travel.kompas.com/read/2017/09/05/060400627/rindik-bali-menuju-europalia-indonesia

Share this:

Comments

comments