Laba Tak Perlu Banyak, yang Penting Omzet Naik

SEMARANG – Di tengah anak-anak muda disibukkan mencari-cari lowongan pekerjaan, ada sebagian yang memilih berwirausaha. Mereka yakin berwirausaha membawa banyak manfaat, selain mendapatkan penghasilan, juga membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Tentu saja juga kebebasan waktu dalam bekerja. Pilihan ini yang diambil Risa Fadhila Jauhary. Alumnus Jurusan Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini membuka usaha di bidang fashion pada 6 Maret 2016 silam.

Berawal dari nol, seiring perjalanan waktu, usahanya berkembang dan dalam waktu cukup singkat, kini dia memiliki 7 karyawan. “Segmen pembeli yang kami sasar adalah kalangan menengah ke bawah, tetapi tak sedikit pula kalangan atas yang membeli busana di tempat kami,” ujar pemilik usaha Leo Fashion yang berada di Jalan Sukun Raya Nomor 15 Banyumanik, Kota Semarang.

Risa, sapaan akrab perempuan berkaca mata ini mengatakan, dalam menjalankan usaha, dia membuat terobosan-terobosan pengembangan bisnis, salah satunya memutuskan tidak mengambil laba besar. “Harga yang tertera di label yang ditetapkan produsen, tidak pernah kami hiraukan karena kami menjual melebihi separuh lebih rendah sehingga sering kali konsumen menilai harga di toko kami jauh lebih rendah dibanding toko fashion sejenis,” kata ibu satu anak ini.

Pelayanan yang baik kepada konsumen juga dilakukan Risa. Menurutnya, pelayanan merupakan modal penting dalam menjalankan usaha. Tak heran setiap bulan omzet penjualan Leo Fashion Sukun selalu menanjak melebihi 30%. “Saya bersyukur, sebulan awal toko ini buka, sudah mendapat laba yang tidak diperkirakan sebelumnya.

Hal ini semakin memacu adrenalin berbisnis saya, sehingga selain berupaya menggenjot lagi omzet toko ini, tahun ini saya juga menargetkan minimal menambah satu gerai di lokasi yang strategis. Survei ke beberapa lokasi sudah saya lakukan bersama suami, tinggal mempertimbangkan aspek teknis maupun nonteknisnya,” kata bungsu dari empat bersaudara ini. Menurut Risa, pilihan berwirausaha sudah menjadi tekad saat masih kuliah.

Dia sama sekali tidak ingin menjadi pegawai sebagaimana pilihan banyak orang. “Kalau bekerja, waktu bekerjanya tidak fleksibel dan uang yang didapat sedikit. Saya juga banyak belajar dari suami yang bekerja di bank. Kalau berbisnis, uangnya bisa tak terhingga dan bisa mengatur sendiri waktu bekerja sehingga bisa leluasa mengasuh anak dan melayani suami,” katanya. Berwirausaha, kata Risa, sejatinya tidak sulit.

Namun, optimisme yang rendah dan merasa tidak memiliki modal cukup, sering kali menjadi faktor penghambat utama yang membuat seseorang batal berbisnis. “Takut merugi memang membayangi tiap orang yang akan mendirikan usaha. Saya pun mengalaminya, tetapi berkat rasa optimistis dan sokongan moral dari orang terdekat, mental saya pun menjadi kuat.

Ditambah dengan fokus dalam bekerja dan rajin beribadah termasuk gemar bersedekah,” ujar Risa. Menurut Risa, ketakutan merugi dalam berbisnis bisa dimitigasi dengan memilih bidang usaha yang sudah dikuasai atau diketahui sebelumnya.

“Kebetulan keluarga besar saya banyak yang usaha fashion, sehingga saya juga belajar dari mereka. Saya kombinasi pula dengan ilmu manajemen pemasaran yang saya pelajari di bangku kuliah. Akhirnya, saya putuskan untuk memulai bisnis sendiri di bidang perdagangan fashion ,”katanya.

Meski demikian, kata dia, tidak menutup kemungkinan di waktu mendatang, mendirikan usaha di bidang lain. “Kebetulan dulu suami saya pernah memiliki bisnis di bidang perdagangan pulsa dan ponsel, tetapi tutup karena kurang serius dan fokus dalam menjalaninya. Kami ingin mengembangkannya lagi dalam waktu dekat,” katanya.
(dni)

 

Ilustrasi: (Foto: Okezone)
Article Source: http://economy.okezone.com/read/2017/01/06/320/1584636/laba-tak-perlu-banyak-yang-penting-omzet-naik

Share this:

Comments

comments