KAIN BADUY: Tak Sekadar Penyambung Hidup

Bisnis.com, JAKARTA – Rukayah yang sudah bangun sejak pukul 04.00 subuh terlihat sibuk meyalakan perapian untuk memasak sarapan bagi keluarga kecilnya. Urusan sarapan beres, dia siap-siap mengurusi kebutuhan anaknya, seperti memandikan dan menyuapi.

Setelah beres, perempuan paruh baya asal Baduy luar ini lantas mengemasi pakaian kotor untuk dicuci di pinggir kali. Usai mencuci pakaian, dia langsung beranjak menuju ladang hingga sore hari.

Berladang memang menjadi aktivitas inti masyarakat Baduy untuk menghasilkan beberapa rupiah.

Namun, tak hanya urusan berladang, beberapa perempuan di Desa Kanekes, Lebak-Banten itu juga menenun kain. Memproduksi kain telah menjadi salah satu sumber pendapatan bagi masyarakat Baduy luar.

Untuk mendapatkan bahan baku seperti kain dan benang, biasanya para suami pergi ke kota seperti ke Cirebon dan Jakarta. Kain yang dibeli di kota hanya untuk variasi dalam membuat kain Baduy, tetapi sebenarnya mereka biasa memproduksi kain sendiri yang berasal dari kapas.

Kain Baduy adalah bagian kehidupan masyarakat lokal karena digunakan untuk busana sehari-hari dan beberapa upacara adat seperti pernikahan dan kematian. Untuk itu, belajar menenun telah diajarkan secara turun-temurun oleh perempuan Baduy kepada anak-anaknya sejak mencapai usia gadis.

Wieke Dwiharti, anggota Forum Kajian Antropologi Indonesia yang saat itu membantu menceritakan kisah Rukayah mengatakan, kain Baduy secara tidak langsung telah menjadi refleksi strata sosial ekonomi warga Baduy.

“Semakin banyak suatu keluarga bisa mewariskan kain kepada anaknya, maka semakin tinggi strata ekonominya,” ujarnya.

Dilihat dari penampakannya, kain tenun khas suku Baduy memang jauh lebih sederhana motifnya ketimbang khas dari daerah lain.

Dengan menggunakan gedogan, alat penenun yang terbuat dari kayu, helai demi helai benang membentuk garis-garis seperti kotak, spiral, segitiga, bulat, dan bentuk geometris lainnya.

Adapun warnanya, pada dasarnya suku Baduy hanya menggunakan warna dasar alam seperti putih, hitam, dan biru tua. Namun, dengan adanya pembinaan dari pemerintah, muncullah warna-warna yang lebih terang seperti kuning, merah, dan biru.

Penggunaan kain Baduy terdiri dari kain sarung, iket koncer atau pengikat kepala, dan selendang. Bahkan, beberapa orang ada yang menggunakannya sebagai selendang untuk menggendong anak. Adapun bajunya, biasanya menggunakan kain berwarna putih yang juga ditenun sendiri.

TIDAK BANYAK BERUBAH

Secara garis besar, perkembangan motif dan bentuk pada kain Baduy ternyata tidak banyak mengalami perubahan sejak dulu. Hal tersebut merefleksikan ke-ajeg-an masyarakat Baduy dalam mempertahankan budaya leluhurnya.

Kendati secara geografis lokasi tempat tinggal mereka dekat dengan wilayah perkotaan, ternyata suku Baduy tidak lantas banyak terpengaruh oleh hiruk-pikuk orang kota.

Mereka tidak bersekolah dan tidak menggunakan perangkat elektronik untuk menunjang kehidupan mereka. Untuk masyarakat Baduy dalam, bahkan tidak diperbolehkan menggunakan produk-produk rumah tangga seperti sabun untuk mandi karena hanya akan mencemari air.

Namun, bagi Wieke yang pernah berkunjung dan menghabiskan beberapa malam di Desa Kanekes atau di wilayah Baduy luar, dia menganggap kebiasaan hidup orang Baduy banyak yang patut dicontoh karena menerapkan kecerdasan berpikir dan berperilaku.

Menurutnya, tidak ada yang perlu diperbaiki karena mereka sudah bahagia. Sikap toleransinya terhadap alam tempat tinggalnya diterapkan sebagai rasa syukur atas anugerah yang diberikan bagi mereka untuk bertahan hidup.

“Mereka sangat hemat. Mereka tidak pernah membelanjakan hartanya untuk keperluan yang tidak mereka butuhkan. Mereka ke kota untuk menjual hasil ladangnya dan hanya membeli barang-barang yang tidak bisa mereka hasilkan sendiri seperti garam dan ikan asin,” katanya.

Perlu diketahui, suku Baduy adalah keturunan Sunda yang pada abad ke-16 menghindari pengaruh Islam yang mulai menyebar di daerah pesisir utara Banten seiring dengan berdirinya Kesultanan Banten Islam. Hingga kini, masyarakat asli Baduy mempercayai keyakinan Sunda Wiwitan.

Ranti Kartakusuma, Ketua Mitra Wastra Nusantara mengatakan eksistensi kain asli suku Baduy kini mulai muncul ke permukaan setelah para pemerhati fesyen mengadaptasi kerajinan kain Baduy untuk diolah menjadi busana kekinian.

“Untuk mengapresiasi hasil karya perempuan Baduy, masyarakat perkotaan perlu diperkenalkan dengan aneka kain tenun yang keindahannya sudah dikenal hingga mancanegara,” katanya.

Dengan berbagai kreativitas desainer dan perhatian perempuan urban dengan kain tradisional sekarang, dia optimistis kain Baduy tidak hanya akan menjadi konsumsi internal masyarakat Baduy, tetapi menjadi bagian dari warisan budaya Indonesia yang tercatat dibuat oleh anak bangsa.

Namun, terlepas dari itu semua, Wieke meyakini seandainya orang di luar Baduy tidak ada lagi yang menggunakan kain Baduy, maka kain Baduy akan tetap hidup karena akan terus menjadi kebutuhan sandang warganya.

Oleh: Nindya Aldila
Editor : Nurbaiti
Keterangan foto: Tenun Baduy
Article Source: http://koran.bisnis.com/read/20170506/463/651246/kain-baduy-tak-sekadar-penyambung-hidup

Share this:

Comments

comments