I Gusti Agung Prana, Pelestari Bahari dari Bali

Liputan6.com, Jakarta Pemuteran, Buleleng, Bali adalah salah tujuan wisata terbaik di Asia. Salah satu orang yang berperan dalam pengembangan pariwisata dan pelestari bahari itu adalah I Gusti Agung Prana.

Pengembangan desa pesisir Pemuteran itu berawal tahun 1989. Saat itu desa ini ditemukan betul-betul dalam kerusakan lingkungan yang amat sangat parah. Hutan dan gunung gundul, di laut terumbu karang kondisinya rusak parah. Masyarakat putus asa, hidupnya miskin.

Dengan segala keterbatasan, perilaku masyarakat menjadi destruktif.

Foto: SCTV

“Ini merupakan salah satu takdir perjalanan hidup saya untuk mengabdi pada Ibu Pertiwi, kok akhirnya saya lewat di desa ini, dan akhirnya terinspirasi untuk membantu masyarakat dalam merehabilitasi potensi tersembunyi, di balik kehancuran lingkungan,” katanya.

Karena telah berpengalaman di industri pariwisata, Agung Prana mampu melihat ada potensi tersembunyi di balik kehancuran lingkungan hidup.

Sudah bisa ditebak, menghadapi masyarakat yang putus asa, dengan segala keterbatasan dan kemiskinan, mereka sangat susah diajak berkomunikasi, apalagi menerima pikiran-pikiran yang ingin membantu mereka.

“Bahkan awal-awalnya, ketika saya meminta mereka menghentikan cara-cara destruktif untuk memanfaatkan potensi laut dan gunungnya, mereka sampai meludahi saya, dan sampai mengecap saya sebagai perampok, merampok orang miskin,” tambahnya.

Dan itu adalah ujian saya, lanjut Agung Prana, untuk melanjutkan misi pengabdian pada ibu pertiwi, kepada lingkungan, itu pesan yang saya terima dari mimpi tidur, sehingga itu sangat mendalam, saya meresapinya dengan dalam, maka saya harus memiliki komitmen kukuh, bahwa saya harus teruskan, membantu masyarakat di sini, mengabdikan diri pada ibu pertiwi, untuk memberikan pada masyarakat.

Gunung – Laut Pemuteran adalah potensi

Foto: SCTV

Karena melihat itu ada potensi, maka Agung Prana kokoh dengan komitmen, mengajak masyarakat secara sadar, sesadar-sadarnya, untuk memperbaiki dan merehabilitasi potensi yang mereka miliki.

Pendekatannya tidak gampang, tantangannya luar biasa, mereka tetap curiga. Akhirnya satu-satunya jalan yang memberikan solusi adalah pendekatan sosial budaya spiritual. Mengajak masyarakat ngomong di pura, di tempat dan di depan tuhan Yang Mahakuasa.

Di Bali, kalau orang sampai melakukan komitmen di dalam pura, di depan Tuhan, tidak ada titik balik lagi, kita harus percaya dan tetap melaksanakan dengan sebaik-baiknya. Di situlah awal semua ini, membuka hati masyarakat di dalam pura kemudian membuka pikiran masyarakat, bahwa mereka memiliki potensi yang luar biasa, yang bisa dikembangkan dan direhabilitasi iuntuk kepentingan mereka sendiri.

Amertasa Sanjiwani, terumbu karang lestari

Foto: SCTV

Berdasar petuah dan nasehat para pakar, terumbu karang itu adalah sesuatu yang luar biasa dalam memberikan manfaat. Terumbu karang bisa memberikan oksigen jauh lebih besar dari hutan tropis. Terumbu karang adalah habitat alami segala biota laut. Semua kehidupan laut basis kehidupannya adalah terumbu karang.

Terumbu karang kini pun menjadi incaran para turis, dalam bentuk marine turism atau wisata kelautan, dengan snorkling, diving.

Sehingga Agung Prana percaya sekali, apabila terumbu karang direhabilitasi, maka terumbu karang itu akan memberikan manfaat kehidupan yang luas sekali. Apakah pariwisata, oksigennya, juga kehidupan lautnya.

“Budaya orang Bali, laut itu adalah Amertasa Sanjiwani, laut adalah sumber dari segala kebutuhan hidup,” ujarnya.

Maka dari itulah komitmen Agung Prana harus memperbaiki bersama masyarakat. Karena kesadaran masyarakat yang penuh, inisiatif dan partisipasi, kunci semua kesuksesan. Sedang teknologi yang dibawa para ilmuwan adalah sekedar pendukung.

“Apapun teknologi maupun uang yang kita gunakan, kalau masyarakatnya tidak mendukung secara aktif partisipatif, tidak akan terjadi,” ujarnya.

Foto: SCTV

Karena para ilmuwan ini sudah melakukan uji coba di Maldives, Filipina, Amerika Selatan, hingga Timur Tengah, dan gagal. Saat konferensii di Nusa Dua dan mendengar masyarakat di sini sudah sangat aktif menjaga lautnya, bahkan mempunyai satu-satunya pengamanan laut di Indonesia, maka para ilmuwan datang ke sini memohon untuk melakukan aplikasi uji coba, teknologi mereka dan berhasil.

Ini yang paling berhasil, satu-satunya berhasil di seluruh dunia, dan dia bisa mempercepat pertumbuhan karang, antara 6-8 kali lebih cepat. Bila musim hujan yang sangat lebat, ada banjir yang membawa sampah-sampah sedimentasi, terumbu karang tidak stres karena dibantu dengan teknologi tenaga biorock yang bantu.

“Jadi ada kombinasi antara partisipasi masyarakat yang peduli sekali, ada teknologinya, ada pionir yang dedicate Nah di situ pemerintah yang meregulasi,” ujarnya.

Taman Laut Arca Wisnu dan Ganesha

Sesudah terumbu karang tumbuh kembali, dan itu menjadi habitat alami kelautan dan perikanan, dan pariwisata dikembangkan, maka perlu dibangun marine park yang dilengkapi dengan patung Wisnu dan Ganesha, juga dihadirkan berbagai bentuk.

Ini yang menjadikan Pemuteran sebagai pilihan destinasi dunia, hingga menjadi salah satu dari best ten dunia, mewakili Indonesia.

Taman laut yang dibangun memiliki luas sekitar tiga hektar. Di luar luas ini, karena masyarakat menjaga teluk ini secara keseluruhan, jadi sepanjang teluk ini tumbuh terumbu karang yang menyeluruh, tumbuh secara alami tanpa ada sturkturnya.

“Kalau yang di biorock kan ada strukturnya, ada energi listriknya. Yang luar tumbuh sendiri. Sehingga ikan-ikan yang dulunya lari ke laut dalam, semua ngumpul di sini. Pagi-pagi orang duduk-duduk ngopi di sini, akan melihat ikan-ikan bermain di laut,”jelasnya.

Tantangannya selama hampir 30 tahun berkarya, bila cuaca laut tidak bersahabat, ada angin sikon atau arus bawah laut yang kuat hingga menggoncang, bisa mengakibatkan patahnya terumbu karang. Ada pemanasan global membuat terumbu karang licin dan stres, lalu mahkota berduri yang memangsa terumbu karang. Tapi itu dijaga oleh masyarakat, turun membersihkan.

Sekarang kesadaran masyarakat akan lingkungan terutama sampah plastik, pelan-pelan sudah mulai membaik. Ada kesadaran tiap-tiap hari tertentu, mereka membersihkan sepanjang pantai. Untuk membangun motivasi masyarakat menjaga lingkungannya, adalah kesadaran pariwisata.

Pariwisata berbasis kearifan lokal ubah kehidupan

Kesadaran pariwisata dibangun dengan cara memberikan peluang-peluang sumber pemasukan. Agung Prana mengajak masyarakat membuat home stay di tanah mereka masing-masing, 2-3 home stay masing-masing rumah, kadang-kadang ada yang punya 10-15 home stay, disewakan sekitar 200- 300 ribu rupiah, menjadi pemasukan yang luar biasa.

Kini segenap masyarakat Pemuteran sangat mensyukuri bahwa ide pariwisata yang dibawa Agung Prana membawa manfaat pada kehidupan masyarakat, manfaat pada rehabilitasi pelestarian lingkungan. Antara lingkungan dan kesejahteraan terangkat secara drastis di sini.

“Inilah yang membuat kami bangga bahwa keyakinan kami, pariwisata dikembangkan, mengadopsi mengaplikasi kearifan lokal, maka pariwisata itu adalah alat komunikasi dan rehabilitasi dan konservasi yang paling efektif. Kalau pariwisata mengaplikasi kearifan lokal, budaya lokal, nilai-nilai lokal,”

Dari kehancuran lingkungan yang parah, menjadi destinasi (wisata) pilihan. Masyarakat yang putus asa dalam kemiskinan, sekarang sejahtera. Ada ibu-ibu muda di masyarakat mengeluh mereka tidak bisa mencari baby sitter.

Bagi I Gusti Agung Prana, apa yang dilakukannya merupakan misi penyelamatan ibu pertiwi, yang keluar dari common sense atau cara berpikir kebanyakan, untuk perbaikan dan pelestarian lingkungan dimulai dari terumbu karang.

Dengan membangun kesadaran lewat lembaga sosial kemasyarakatan, pendidikan, hingga upacara-upacara, tentang pelestarian lingkungan, dan itu sangat efektif. Seperti soal isu sampah plastik tidak mengenakkan dan mengganggu tempat sembahyang, menimbulkan kesadaran pelestarian lingkungan.

Oleh: Karmin Winarta
Article Source: http://citizen6.liputan6.com/read/2949090/i-gusti-agung-prana-pelestari-bahari-dari-bali

Share this:

Comments

comments